Pagi-pagi itu, dia sudah menyambutku
dengan secangkir kopi hangat buatannya, sembari tersenyum manis kepadaku. Dia
memandangku dengan penuh kasih, dan aku pun demikian. Sepasang mata bening yang
sudah tak begitu asing lagi ku melihatnya. Dia nampak tersipu. Perasaan yang
demikian ini hampir tak pernah lagi aku rasakan akhir-akhir ini, sejak aku
pertama kali bertemu dengannya enam tahun yang silam.
Yang jelas, ini
bukanlah yang dinamakan love it the first sight. Karena sebelum
menikah dengannya, aku sudah mencintainya, tanpa perasaan ragu sedikitpun. Akan
tetapi tak diijinkan untuk memiliki hatinya saat itu. Maklumlah, anaknya
anti-pacaran. Untunglah dia termasuk tipe saya.
Awalnya
dahulu, aku dan dia sama-sama mahasiswa di Institut Teknologi Bandung, dan
kebetulan satu kelas sama dia. Disalah satu kegiatan belajar kelompok dikelas,
aku gabung di kelompok yang sama dengannya. Dan ternyata, eh, dia anaknya
pintar dan cerdas. Terus di lain waktu, dengan tak disengaja, aku bertemu
dengannya lagi di Masjid Agung yang ada dikota Bandung itu. Dalam benakku,
mengatakan ternyata dia juga rajin beribadah. Dengan penampilannya yang
tertutup mulai dari kepala sampai betis, sudah kelihatan kalau dia orangnya
alim. Tapi,,, ah, harus kuakui kalau aku lalu mulai memperhatikannya. Ya paling
tidak, aku tahu seperti apa lagi sih gadis yang aku kenal kali ini. Ya, seorang
gadis innocent, agak kurus dan Islami bangat. Namanya Sarah Az-Zahra. Sebuah
nama yang mengingatkanku kepada salah seorang perempuan yang menjadi istri nabi
Ibrahim A.S.
Aku memang
mulai aneh saat itu. Pada suatu sisi aku ingin mengetahui lebih banyak lagi
tentang dia. Padahal dia bukanlah bahan untuk penelitianku. Ada-ada saja aku
ini. Tapi pada saat itulah aku menyadari bahwa dia memiliki karakter yang sulit
kutemukan pada wanita lain: dia jujur dan tetap pada pendirian!
Dia tak
pernah membiarkan aku mengharapkannya terlampau jauh, meskipun aku pernah
mengucapkan kata cinta kepadanya. Kata-katanya padaku membesarkan hatiku, meski
isinya hanyalah penolakan yang sangat sopan sekali.
Aku
tergumam dalam hati “hmmmm!”. Aku mulai membiarkan diriku tergiring olehnya
pada obrolan-obrolan tentang lingkup dan kegiatan-kegiatan keagamaan. Dan aku
menemukan sesuatu yang lain padanya: dia tidak pula kuper.
Mungkin
pada saat itu seleraku sedang berubah. Di waktu masih SMA dulu, pacar-pacar
“monyet”-ku cantik-cantik. Ada yang jago Voly, jago nyanyi, Bintang kelas dan
anak kepala sekolah...
Tapi yang ini bukan siapa-siapa.
Bukan apa-apa. Kalau bodinya yang kan kunilai secara obyektif, aku rasa lebih
dari standar atau paling tidak lima setengahlah. Tak terlalu bagus untuk di
pajang, tapi juga tidak malu-maluin. Ya mungkin aku sudah dewasa, hingga aku
tidak tertarik kepada seseorang dengan melihat fisiknya, tapi hati dan
sifatnya.
Waktu serasa begitu cepatnya. Tak
terasa hari itu adalah tepat satu tahun aku menikah dengannya. Walau terkesan
mengada-ada, tapi harus ku catatkan kalau tanggal 11 Desember adalah hari yang
sangat bersejarah dalam hidupku. Dan aku seharusnya berterima kasih kepada
kedua orang tuaku yang telah memberiku do’a dan restunya untuk pernikahanku,
meski tak bisa menghadiri acara tersebut, tak lupa pula kepada bapak lurahku
semasa di Bandung yang telah bersedia menjadi wali untuk pernikahanku .
Pagi itu
pula, kupandangi senyuman manisnya yang merekah di hadapanku. Agak legah juga
rasanya, di bawah depan pandangan matanya yang sayuh. Tidak seperti dulu yang
selalu menundukkan wajah saat bertemu denganku. Mungkin karena saat itu muka
saya masih setebal kampus di ITB dulu. Terbayang kembali saat-saat indah
kemarin, ada awal-awal pertemuan dan saat-saat di hadapan penghulu. Memang
tahun pertama kenalan bisa di katakan kami lalui dengan biasa-biasa saja.
“sudah
donk! Jangan di ingat-ingat lagi, lagian aku udah lupa kok.”
Suaranya membuatku kaget dan membuyarkan lamunanku.
Ternyata dia juga membaca pikiranku dengan melihat wajahku yang kelihatan
seperti mengingat-ingat sesuatu.
“jangan
lupa anterin aku ke klinik untuk periksa kandunganku siang nanti” imbuhnya
“Insya
Allah istriku” lirihku.
Kulihat raut mukanya yang seperti geli mendengar ucapanku.
Spontan jubitan lembutnya mendarat di punggungku. Senyumannya pun kian mengisi
semangat pagi itu.
^^^^^^^
“Saudara
bapak Syafid, saya ucapkan selamat. Istri anda positif hamil dengan usia
kandungannya yang menginjak dua bulan. Sekali lagi selamat.”
Suara dokter itu serasa mengelus-elus kepalaku, bagai
elusan seorang ibu kepada putranya. Ku temui Sarah di ruang periksa, dan ku
sampaikan kabar gembira itu. Sujud syukurpun terlaksana seketika diruangan itu.
Setitik air mata menetes tepat di sudut mata bidadariku itu. Hari-hari pun kian
indah seiring tumbuhnya sang buah hati. Tak ada kebahagiaan yang sungguh dan
sungguh indah selain kebahagiaan yang tengah menjadi atmosfer diruang
keluargaku saat itu. Istri yang solehah dengan segala kecantikan dan
kebaikannya. Tiba-tiba aku merasa tak ingin cepat-cepat meninggalkan dunia yang
fana ini. Semua itu karena hadirnya permata nan elok ini dalam hidupku ya
Rabbi.
Suatu
malam sepulang dari kerja, aku baru kali itu mendapati istriku yang aku sangat
cintai itu tengah menyediakan makan malam untukku. Dengan tidak di persilahkan
terlebih dahulu, aku langsung duduk dan mencicipi sesendok sayur bening kesukaanku
buatan bidadariku malam itu.
Mmmmhhhh,,!!!
Spontan mataku melotot dan tersentak.
“kenapa mas? Sayurnya keasinan ya?” tanyanya
Aku tak mungkin berkata jujur untuk kali ini, tak ingin aku
meenyakiti atau pun menyinggung perasaannya. Dan ini bukanlah suatu perbuatan
dosa untuk bohong yang seperti ini.
“ mmh,, nggak ko, sayang. Sayurnya enak kok, hanya saja aku
udah di traktir makan sama bos tadi di pabrik” jawabku disertai senyuman untuk
pemanis maksud.
Cepat-cepat ku alihkan pembicaraan, biar tidak menanyaiku
dengan beberapa pertanyaan lagi.
“gimana si ade, udah di kasih makan malamnya belum?”
tanyaku
Sesaat dia natapku dalam-dalam.
“udah kok pa,” jawabnya seraya menghampiriku dan berdiri di
belakang kursi tempat aku duduk dan membelai-belai rambutku.
“syukurlah, jangan sampai lupa untuk kesehatan itu
dijaga”tambahku
Kurasakan betapa tulus cinta dan kasihnya untukku. Hingga
menyadarkanku, apakah dia juga merasakan besarnya cintaku padanya? Atau kah dia
malah merasa menderita hidup bersamaku dalam segala kesederhanaan ini. Tapi
Sarah bukanlah perempuan yang melihat sesuatu dari materi. Aku cukup
mengenalnya sebelum aku meminangnya dulu. Bahkan dia menyukai kesederhanaan.
Sejenak ruang itu di penuhi keheningan.
Pukul
20.43 malam itu, kulihat Sarah melangkah kearah kamar kecil dengan cukup
tergesah-gesah. Aku hanya bisa memperhatikannya saat itu tanpa aku ingin tau
apa yang terjadi dengannya, aku masih tetap menatap layar televisi berukuran 29
inch itu, dengan pertandingan sepak bola Indonesian super league antara
Sriwijaya Fc kontra Persija Jakarta yang saat itu masih diperkuat oleh sang
kapten Bambang Pamungkas yang juga adalah striker andalan timnas Indonesia saat
itu juga.
Agak lama
juga rasa Sarah tak keluar dari sana. Aku pun mulai curiga dengannya, entah
kenapa aku mulai mengkhawatirkannya. Hingga aku tergerak untuk melihatnya. Aku
mengetuk daun pintu kamar mandi itu,
“sayang! Ngapain sih didalam kok lama?” tanyaku
Tak jawaban sesaat itu. Tiba-tiba pintu terbuka, dengan
senyuman manisnya dia menghipnotis aku,
“abis, aku ditinggalin sendiri nonton tivi” jawabnya
setengah manja
Jawabannya itu sangat membuatku geli mendengarnya, dan
tiba-tiba saja aku memeluknya dengan erat dan menggendongnya, dia pun merontah
dengan manjanya. Tapi aku terus saja menggendongnya sambil melangkah kearah
kamar. Setelah melepaskannya, dia dengan beraninya mulai melingkarkan
pelukannya pada leherku sambil menatapku dengan penuh cinta. Dan akhirnya kami
pun beribadah bersama karena ALLAH semata. Inilah hadiah dari-NYA untuk kita
yang benar-benar berada dijalannya. Dan aku sangat bersyukur telah memiliki
istri sebaik dan solehah seperti Sarah. Seakan aku tak ingin berpisah
dengannya, dan tetap ingin bersamanya selama mungkin di dunia ini, dan semoga
Allah menyatukan kami kembali di akhirat nanti sebagai sepasang yang saling
berkasih-kasih lagi menyayangi. Bukan malah menjadi saling membenci dan
memfitnah.
Benar kata-kata Mario Teguh, bahwa:
Kita harus bersedia hidup kurang dari kesempurnaan
yang kita
harapkan,
untuk mengijinkan kekasih kita tumbuh menjadi penyempurna kehidupan kita.
Dan seperti itulah yang telah aku
temui pada cintanya Sarah kepadaku. Dia memang istri yang unik dan terbaik yang
aku telah aku dapatkan.
Pagi-pagi sekali, aku melihat Sarah
melangkah dari dalam kamar mandi, dengan tampak lesu. “ada apa dengan istriku
ini”umpatku dalam hati. Apakah dia sakit, atau apa? Tapi kenapa dia harus
merahasiakan padaku jika benar dia sakit. Dan beberapa saat kemudian, terlihat
lagi Sarah menuju toilet.
“sayang,,! Apa kamu
sedang sakit?” tanyaku
“nggak, cuman gejala
masuk angin aja” jawabnya
Dan kurasa itu jawaban
yang bisa diterima.
^^^^^^^^^
Siang itu, aku sedang mengantarkan
Sarah istriku untuk mengecek kandungan untuk ke-tiga kalinya. Dan tak seperti
biasanya, ibu dokter yang memeriksanya memanggilku keruangannya.
“ saudara bapak
Syafid, apakah istri saudara pernah kau bawah keluar rumah untuk sekedar
jalan-jalan?” pertanyaan yang aneh menurutku
“tidak dok, Sarah
orangnya betah dirumah. Dia lebih sering menghabiskan waktunya dirumah dengan
melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk mengisi pita rekaman bayi yang di
kandungnya” jawabku
“dengan sangat
menyesal saya katakan kepada bapak, bahwa istri saudara tengah mengalami
gejala-gejala headstroke.”
“apa dok? Itu gak
mungkin, lagian udara dan cuaca belakangan ini tidak begitu terlalu panas, lalu
apa penyebabnya?”
“apakah anda pernah
menjumpai istri bapak dalam keadaan sering mual-mual diusia kandungannya yang
udah menginjak enam bulan ini?”
“tidak pernah dok”
sedikit-sedikit aku mengingat hari-hari belakangan ini, kok Sarah sering keluar
masuk Toilet. Apakah itu gejalanya, dan menyembunyikannya dariku. Oh,, Sarah
istriku,,! Aku ini adalah dirimu, janganlah kau menyembunyikan sesuatu dariku,
biar aku memahamimu lebih dari ini. Kau adalah kehormatanku yang kan selalu aku
jaga kesucian dan keabadiannya. Kutinggalkan ruangdokter itu dengan jantungku
berdetak tak karuan, emosi bercampur kecewa. Sarah istriku telah menyembunyikan
deritanya terhadapku. Aku tak ingin berdosa kepadanya ya Allah. Dengan tidak
memberinya perhatianku. Hanya dialah yang pantas untuk aku anugerahi perhatian
dan segenap cinta kasihku ini.
Malam itu, Sarah tertidur lebih
dulu. Sementara aku masih saja terjaga dan gelisah mengatahui keadaan
bidadariku dalam ancaman maut yang bisa memisahkanku dengannya, dan disisi lain
aku belum siap kehilangan beningnya tatapan matanya dikala pagi. Bak Embun yang
menyirami bumi dikala waktu duha. Ya Allah, janganlah kau biarkan aku
mendapatkan cinta kasih dari orang lain selain cinta yang sungguh indah ini
dari Sarah, istriku tercinta. Kuingin hanya darinya aku mendapatkan cinta
sesuci ini dan cinta suciku hanyalah untuknya semata. Dalam kegelisahanku,
tiba-tiba sebutir obat berwarna merah tertangkap oleh titik fokus retinaku.
Keraih butiran itu. Istriku benar-benar menyembunyikan penyakitnya terhadapku.
Kenapa dan ada apa denganku hingga dia tidak jujur padaku? Apakah karena aku
hanyalah lelaki miskin yang tak punya penghasilan yang cukup untuk membiayai
perawatan untuk penyakitnya itu? Kutau itu adalah benar. Tapi aku akan berusaha
dengan segenap jiwa dan ragaku untuk memberikannya demi kesembuhannya sebagai
bukti dan bakti cintaku yang tulus lagi suci untuknya. Apalah gunanya rumah yang mewah dan bertingkat, mobil yang mengkilat
kalau didalamnya bak kiamat(KH.Zaenuddin Mz). Begitu pula antara aku dan
Sarah istriku yang setiap saat ku cintai lantaran kebesaran Allah.
Dua setengah bulan
telah berlalu.
Usia kandungan Sarah
Semakin tua, dan darah yang membeku dibagian bawah otak kecilnya semakin hari
semakin menjadi-jadi. Dan tentu saja aku semakin mengkhawatirkannya dan juga
anak dalam kandungannya. Tak ada yang aku harapkan saat itu selain pertolongan
dari yang Maha Kuasa. Tiap tengah malam aku berdo’a dan memohon keselamatan
untuk dua jiwa yang masih bersatu dalam satu raga. Sementara pekerjaan ku yang
bisa dibilang cukup banyak tak pernah kubiarkan lewat bersama waktu. Dan
pastinya waktu saya untuk bersama sarah semakin sempit saja. Terkadang aku
merasa kesal dengan hidup yang seperti ini.
Malam itu malam Sabtu, tanggal 5
memasuki bulan Mei ditahun 2012.
Aku dan Sarah sedang
duduk di ruang tamu, udara diluar rumah tampak dingin sekali. Dengan manja
Sarah memeluk tubuhku yang agak kurus.
“tak terasa ya, kita
udah hampir dua tahun menikah, dan sebentar lagi buah hati ini akan lahir
kedunia yang akan ku tinggalkan ini”. Lirihnya
Aku terkaget dan
tertegun menatapnya. “ kamu ngomong apa sih barusan sayang, nggak baik loh
ngomong kayak tadi, aku itu nggak mau jika ditinggal sendirian didunia ini,
karena dunia tidak akan terasa seindah hari kemarin dan juga hari ini kecuali
ada kamu disetiap nafasku”. Pungkasku
“gombal banget seh!
Kamu tau, kalau aku tidak suka dipuji apalagi digombal oleh siapapun sejak
masih sekolah dulu?” tanyanya lagi dengan nada yang agak berbeda
“ aku tau itu, kamu
takutkan kalau jadi besar kepala, angkuh dan juga sombong” jawabku setengah
bertanya
“ iya sayang,!
Oya kalau anak kita nanti lahirnya
perempuan mau dikasih nama siapa?” tanyanya
“emh,, siapa ya? Kalau
sayang mau nama siapa?”
“ NURUL AINUN” pungkasnya dengan girang
“ nama yang sangat
bagus sayang,, ternyata kamu masih sepintar dan sebijak dulu. Kenapa kamu memilih
nama itu?” tanyaku
“ karena aku ingin dia
menjadi sosok yang mampu menggantikan aku” jawabnya
Aku nampak kaget lagi
atas jawaban yang dilontarkan olehnya
“tentu saja sayang,
dia akan mewarisi semua sifatmu, sifat ibunya. Cantik, baik, solehah, pintar,
dan yang paling penting adalah kamu adalah istri yang paling mulia yang sempat
kumiliki dalam kehidupan ini.” Imbuhku
Malam semakin menggiring kamu kealam
lelap, dan kulihat Sarah pulas dalam dekapanku saat itu. Aku merebahkannya
ditempat tidur dan menutupi badannya dengan selimut. Sesaat aku akan melangkah
meninggalkannya, sentuhan tangan dingin tepat mengenggam erat tangan kananku,
seraya dikecupnya dengan penuh kehangatan. Rupahnya dia terbangun saat aku
membopongnya ke dalam kamar.
“Assalamu Alaikum!
Selamat tidur suamiku” senyum dan tatapannya yang bening kembali menghipnotisku
Sebelum ku jawab
salamnya, kusempatkan mengecup keningnya dengan penuh takzim dan sayang. “
Wa,alaikum salam istriku”. Dan beberapa saat kemudian dirinya pun terbuai dalam
mimpinya.
Malam terasa berat
untuk berlalu. Gerak berputar bumi seakan tertahan oleh suatu kekuatan yang tak
mungkin dimiliki oleh manusia biasa. Sampai dentangan detik jam kini melalui
menit ke dua puluh tujuh di jam sebelas malam, aku tetap saja tidak bisa
memejamkan mataku.
Kira-kira jam dua
malam lewat, aku bangun. Aku tak tahu aku tidur dijam berapa dan berapa lama
aku tertidur. Aku pun melaksanakan sholat malam untuk kembali bersujud dan
memohon kepada Allah, untuk keselamatan Sarah dan anak yang ada dalam
kandungannya, dan lebih-lebih lagi untuk kesejahteraan rumah tangga yang kami
bina bersama. Dalam do’a ku kuserukan permohonanku disertai tangis ku. Seperti
anak yang tengah mengiba-iba kepada ibunya. Selesai melaksanakan sholat, aku
menyempatkan diri untuk menengok Sarah dikamar. Kuciumi ubun-ubunnya dengan
penuh cinta. Dan rasanya dia tak tertidur saat itu. Tapi aku tidak mau
mengganggunya.
Diatas meja kulihat sebuah bingkai
poto berukuran lumayan besar terpajang. Ya itu memang poto pernikahanku dengan
Sarah, yang sempat terabadikan.
^^^^^^^^
Dan hari itu adalah hari Minggu,
tanggal 6 Mei. Sampai jam segini Sarah belum juga keluar dari kamar. Mungkin
saja dia masih terlelap? Tapi ini tidak biasanya dia lakukan. Ketika aku masuk
kamar, dan,,,,,Masya Allah..!!!
Sarah saat itu tak
sadarkan diri. Darah membasahi tubuhnya bagian bawah. Ccepat-cepat aku bawa ke
Klinik Cempaka Putih, klinik yang biasa dia periksa kandungannya selama ini.
Petugas-petugas diklinik itu nampak mulai sibuk dengan kadatanganku baru saja.
Ada yang berlari-lari. Sementara itu, aku masih diluar menunggu hasil
pemeriksaan dokter.
Jam 11.06, sayup-sayup
aku mendengar suara tangisan bayi yang baru lahir. Dan itu terdengar dari ruang
tempat Sarah di periksa barusan. Aku sudah tidak sabar lagi menunggu dokter
keluar dari ruangan itu. Aku menunggu, hingga dua puluh menit lebih. Kulihat
dokter Nisa keluar dengan wajah yang biasa saja.
“selamat pak Syafid,
putri anda lahir dengan selamat. Namun bapak harus bersabar hingga saat ini, karena istri bapak
masih harus kami operasi karena penyakit dikepalanya.”
Bahagia dan haru serta
sedih.
Bahagia mendengar
putriku selamat, dan sedih mendengar bidadariku hampir dan sangat kecil
kemungkinannya bisa tertolong. Tak hentinya aku memohon kepada Allah dalam
hati. Selamattkanlah dia ya Allah. Biarkan dia hidup untuk melengkapi
kebahagiaan ini.
Setelah beberapa saat,
dua orang dengan berpakaian putih-putih datang menghampiriku.
“kami mengucapkan maaf
yang sangat teramat kepada saudara Syafid. Kami sudah berusaha semaksimal
mungkin, namun Allah berkehendak lain, istri bapak telah meninggalkan kita
semua sejak lima menit setelah putrinya lahir.”
Matahari serasa
membakar isi hatiku kala itu juga, hatiku seperti tergilas mobil teng yang
biasa dipakai di perperangan. Pupus sudah kebahagiaan ini. Permata hatiku yang
berkilauan emas kini kembali kepada sang Khaliknya. Zat yang paling Maha Kuasa.
Meninggalkan sejuta kenangan yang tak sempat aku ceritakan kepadanya. Terkadang
Hidup terasa kurang adil. Tapi aku bukanlah sang penghianat, yang akan melawan
titian kodrat ini. Air mataku kian bertambah deras saat ku tatap wajah pualam
itu yang pucat dan kaku terbungkus kain putih. Ya Allah,,, terimalah dia
disisimu dengan posisi yang paling istimewa, seperti aku mengabadikannya di
ruang hatiku yang paling istimewa, ruang hatiku yang belum pernah disentuh oleh
cinta sebelum cinta kasihnya yang suci lagi mulia.
Aku masih saja tak bisa menahan
tangisku, yang terseduh-seduh.
“ikhlaskanlah kepergiannya
nak, biar dia tenang dialam sana” ibuku yang sudah tua turut ikut diacara
pemakaman Sarah, seorang istri yang tak akan pernah ku temui di belahan bumi
mana pun juga, selain dibumi yang kupijaki bersamanya kemarin.
4
mei 2012
Suamiku,,,,!!!!
Harus kuakui
bahwa engkaulah pria terbaik yang telah kumiliki. Belum pernah aku melihat
seorang suami yang seebaik kamu. Disaaat aku melakukan kesalahan padamu, ku tau
kau selalu menyembunyikan kekesalanmu padaku, karena kau tak ingin menyakiti
perasaanku.
Aku juga tau
dan bahkan melihatmu. Kau slalu mendo’akan aku setiap sepertiga malam di sholat
malam mu itu. Kau takut kehilangan aku, bukan? He.. he...Tapi engkau belum
sadar sesuatu, bahwa didunia ini kini, hanya mampir sebentar.
Suamiku...!!!
Ingatlah, bahwa
ada tempat yang paling indah untuk kita bercinta lagi. Dan jika Allah
mengijinkan, kuingin menjadi pendampingmu lagi di sana kelak.
Suamiku....!!!!
Aku minta maaf,
jika aku pernah khilaf kepadamu. Akhirnya aku sadar satu hal, bahwa tak mudah
untuk mengimbangi kebaikanmu kepadaku selama ini. I love you,,,,,
Sarah
Ketika sekelumit pola-pola wajah Sarah
yang masih saja membayang dalam benakku, lalu lembar-lembar cerita indah yang
kini telah tiada, Saat itulah seberkas mata bening membuyarkan lamunanku yang
hampa.
Selesai
Hari
kamis oo.36, 7 Juni 2012.


21.51
Bukan Spiderman
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar