Satu hari di hari kemarin. Satu detik tercepat yang pernah di rekam oleh
memori ingatanku. Tanggal 28 april tepatnya.
Hari sebelumnya aku masih mempunyai
seorang kekasih yang aku sayangi, aku cintai dan tak pernah aku inginkan hilang
lagi seperti pendahulunya. Dia seorang perempuan berparas biasa-biasa saja,
namun memiliki kulit putih bersih. Dan satu hal yang paling aku sukai darinya
adalah rambut panjangnya, hitam tebal bak rambut seorang perempuan timur
tengah. Walau sebenarnya masih banyak
yang mampu membuatku terpesona di saat iya berdiri di depan mataku.
Dia juga sangat baik kata
teman-temannya, dan aku bisa melihat dan merasakan sendiri kemuliaan yang ada
di hatinya. Aku melihat bagaimana iya bersikap kepada Ibunda tercintanya,
saudara dan juga orang-orang yang memiliki kedekatan dengannya. Sebenarnya aku masih meragukan apa yang
terjadi antara aku dan dia. aku bertemu dengan dia kembali di sebuah acara
pernikahan seorang teman SMA. Yah teman satu angkatanku dulu. Dan sebenarnya
dia adalah adik kelasku juga dahulunya. Tapi saat masih sama-sama berstatus
siswa SMA, aku dan dia seolah tak saling mengenal. Tempat dimana aku biasa
memperhatikannya dahulu itu adalah kantin sekolah. Disana iya sering aku temui
bersama teman-teman se_genk nya. Dari dulu aku senang sendiri, hanya
beberapa saat saja aku biasanya ditemani teman-temanku, bukannya aku tidak
punya teman, tapi aku nya yang kadang menjauh dari teman-temanku sendiri. Namun
aku tak pernah lupa menyapa jika bertemu dengan salah seorang teman yang aku
kenali.
Kembali ke topik yah,
Reader.
Dari pertemuanku dengan di
acara itu, aku merasa ada kontak bathin yang sebenarnya aku belum begitu aku
pahami sebabnya. Padahal dia gak tebar pesona juga saat itu. atau mungkin dasar
aku nya yang memang jatuh cinta melihatnya kale ya. J. Ok Fix,,!. Aku jatuh cinta kepadanya Reader.
Untungnya saja aku punya PIN BBM-nya (Blackberry Messager loh yah, bukan Bahan
Bakar Minyak :-p). walaupun aku mulai pedekate dan sok akreb sama dia via BBM,
tapi rasanya ada sinyal yang bisa menarikku lebih dekat lagi kepadanya.
“Veny yah?”. Sapaku via BBM
(Nama Samaran loh yah Reader).
“ Iya, Ini Siapa?”.
Jawabnya ( sedikit sadis yah reader)
“ Arfan, gue kakak kelas
loe dulu di SMAN 9”. Balasku (itu nama Samaran gue reader, Sekolahnnya juga gue
karang namanya J).
“oh, Ade’ kuliah dimana ?”.
“aku panggil ade’ aja yah?”
tulisku (cieh-cieh, sejak kapan aku dilahirin mamanya yah Reader. :-D)
“Aku kuliah di Unlam Ka’.
Aku juga panggil Kakak yah”. Balasnya
Dan dari obrolan itu, kami
saling tanya-jawab seolah mulai saling memperkenalkan diri lebih banyak lagi.
Sampai pada aku tanyain pacarnya ada gak, siapa orang. Begitu juga sebaliknya.
Dan akhirnya terjadilah hubungan kami yang seperti itu. hubungan cinta di dunia
maya tapi serasa kenyataan. Aku mencintainya benar-benar dari hatiku paling
dalam. Dan aku tak pernah mengetahui seperti apa aku di benaknya. Apakah aku
hanyalah teman ngobrolnya dari pagi sampai iya akan terlelap tidur di Malam
hari. Dan sepanjang ikatan itu sekalipun aku dan dirinya tak pernah bertemu
lagi. Tak pernah saling menatap lebih dekat. Menyentuh kulit putihnya, apalagi
membelai rambut panjangnya yang sangat aku kagumi. Aku hanya bisa melihatnya
lewat kotak kecil tempat iya biasa memasang DP(display picture)nya pada akun
BBM_nya. Mendengar suaranya yang terkadang manja lewat telpon seluler ataupun
Voice note yang ia biasa kirimkan buatku.
Dan sepanjang ikatan semu
itu, terbesit di hatiku hasrat besar untuk bisa menemuinya di selah-selah
kesempatanku. Maklum sajalah Reader, Saat ini aku sedang kuliah di kota Malang
sedang iya ada di pulau Kalimantan. Jarak dan waktu benar-benar mengironiskan
ikatan cinta antara aku dengannya, memisahkan aku dengannya tanpa ampunan.
Kesibukan belajar dan tugas-tugas kuliah pun menambah derita di dalam
kesabaranku menahan kerinduan yang membuncah-buncah kepadanya.
Tetapi aku masih meyakini bahwa akan ada satu waktu di mana
aku akan merasakan detakan jantung yang sangat hebat kala aku tinggal beberapa
langkah lagi akan sampai di tempat di mana iya sedang menunggu kedatanganku
yang mungkin saja iya juga rasakan.
Aku masih percaya bahwa akan ada detik dimana aku akan
merasakan indahnya perjalanan untuk menemuinya, menghadang lautan yang
memisahkan antara pulau Jawa ini dan Kalimantannya.
Aakan ada saatnya dimana aku merasakan getaran rindu yang
akan membuatku gugup saat melihatnya ia sedang duduk sembari tersenyum
melihatku datang menghampirinya.
Dan seingatku, ikatan, rindu dan
keyakinan-keyakinan konyolku itu tersimpan rapi hampir berumur satu tahun atau
mungkin saja akan abadi selamanya tersimpan dan tersembunyi dibalik
senyuman-senyumanku yang terkadang semu ini.
Pada satu kesempatan, aku
pernah pulang liburan kekampung halamanku di Tanah Kalimantan. Aku sangat
berharap bisa bertemunya disana, namun lagi-lagi kesempatan itu tak kutemui.
Karena alasan kegiatan kuliahnya, ia tetap berada di kota Banjarmasin. Sedang
aku, asik membantu orang tuaku mengurus kebun di kampung. Namun lagi-lagi
keyakinan-keyakinan itu masih saja kokoh dan tak hentinya bertasbih menghibur
hatiku yang mulai menggundah. Dan akhirnya masa perkuliahanku tiba, dan
memaksaku untuk kembali meninggalkan kampung halamanku tercinta, orang tua dan
kerabat keluargaku lainyya.
Di hatiku memang ada
segumpal penyesalan karna tak bisa bertemu dengannya. Walau sebenarnya obrolan
dari akun sosial media dan telpon tetap baik dengannya.
Sesampainya di Kota Malang,
aku mulai mencari sumber penghasilan tambahan, dengan niat aku ingin
menabungnya sebagai ongkosku disuatu hari saat punya waktu beberapa minggu
untuk pergi menemuinya di sana. Tetapi malah sering menimbulkan kesalah-pahaman
diantara kami berdua. Aku sering terlambat membalas obrolan_obrolannya, aku
juga terkadang telat bangun pagi hanya untuk membaca BBM nya yang kebanyakan
berisikan “selamat pagi sayang”. Itu semua terjadi akibat bertambahnya
aktivitas keseharianku.
Sampai pada akhirnya, ada
kegiatan diluar kota yang dilaksanakan oleh tempat dimana aku kerja. Kurang
lebih Seminggu aku dan beberapa rekan kerjaku harus mengikuti Tekhnical
Training Di Bali. Komunikasiku dengannya berubah 75% dari biasanya. Bahkan hari
pertama sampai hari keTiga di Bali, sama kali tidak ada komunikasi, dan itu
adalah instruksi dari tim pembimbing kami selama di Bali.
Dan pada akhirnya, semuanya
berakhir begitu saja. Aku berusaha menjelaskannya kepadanya. Tapi aku tak
berhasil menyelah sedikitpun amarahnya. Dan perlahan aku menyadari bahwa
beberapa waktu belakangan kami memang mengalami beberapa keanehan. Terutama aku
yang jarang membalas ataupun mengiriminya kata-kata pemanis senyumnya. Ataupun
penyekah air mata kesedihannya, atau bahkan penghibur kegalauannya karna
deadline-deadline kampusnya yang padat.
Semuanya tiba-tiba terhenti, seperti anak kecil yang
tiba-tiba kehilangan kesenangnya. Aku menyadari,tapi lucu untuk di tangisi. Aku
menyesali, tapi konyol diratapi. Sebab tak ada bahasa Cinta yang benar-benar
mampu membungkam ataupun mampu mengunci kasabaran seseorang. Apalagi jika cinta
itu cinta yang terhalang oleh ribuan kilometer dan jam. Tetapi walau
bagaimanapun juga cinta jarak jauh memang benar-benar ada. Adanya di dalam hari
seorang insan pencinta yang dipenuhi kesabaran, ketabahan, ketenangan yang
diselimuti kesetiaan lalu terbalut menjadi satu. Itu lah kesetiaan.
HAPPY BIRTHDAY HENY PRADITA_ 06 AGUSTUS 2014


16.47
Bukan Spiderman
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar