Sudah beberapa hari ini, mbak Tia terlihat acuh dan jarang
lagi membalas sms-sms ku, aku memang cuman teman sekelasnya yang baru kenal
beberapa bulan lalu, tapi mbak Tia ngga biasanya seperti ini, toh
kemarin-kemarin dia masih bersedia membalas ocehanku lewat sms-smsku ke nomor
ponselnya.
Tia Pranasinta, itu nama yang sangat aku kagumi kelembutan hati pemiliknya, seorang
mahasiswa yang pintar di kelas Biologi semester tiga, di IKIP BUDI UTOMO
MALANG yang juga adalah kelas dan kampusku. Seorang muslimah
yang taat, Dia seorang yang giat, rajin, bertanggung jawab, selalu
menjaga perasaan setiap orang serta rajin beribadah. Sejak aku pertama
mengenalnya, aku memang sudah terkesan suka padanya, hingga aku tau bahwa dia
adalah seorang gadis singel, alias belum ada pacar dan aku merasa bahwa ada harapan
untuk aku bisa dekat dengannya.
Aku memang menyukai gadis sepertinya, yang lebih mengenal Agama, pakaiannya
yang longgar dan tertutup sehingga tak ada sedikitpun auratnya yang nampak,
tidak seperti teman-teman cewek ku yang lainnya, yang lebih suka
mengenakan pakaian ketat, dengan anggapan bahwa sekarang adalah era modern dan
globalisasi. Tapi mbak Tia lain dari yang lain, hingga jantungku pun bergetar
dan berdetak tak menentu bila melihatnya.di daerah asalku Banjarmasin belum
pernah aku menemui gadis seperti mbak Tia, yang begitu lembut sifatnya, sopan tutur
sapanya.
*****
Hari ini adalah hari Selasa , ada kelas Belajar dan
Pembelajaran, jam 14.00 nanti.
Selesai makan aku langsung membuka laptop axio ku, yang
umurnya sudah kurang lebih 3 tahun, di halaman utama terlihat manis gambar
seorang gadis yang mengenakan jilbab, berwarna pink, atasan putih dan bawahan
hitam, sedang duduk manis, dan memberikan senyuman indahnya pada setiap orang
yang menatap layar laptopku. Ya itulah poto mbak Tia yang aku pasang sebagai
tampilan background di layarku, sebagai penyemangat hidup. Di tengah
keasikanku memainkan game di laptop tiba-tiba ponselku memekik pelan, ada pesan
masuk,
“ mata kuliah BDP hari ini kosong, dosennya sakit” itu
bunyi sms dari Lisa teman sekelas.
Kontan saja pesan itu aku forward ke nomor mbak Tia,
untuk memberi tahukan bahwa hari ini ngga ada kuliah, dan beberapa detik
ponselku kembali memekik’
“ Thanks....!”
Hanya itu yang di kirim sebagai balasan atas info yang aku
kasih ke mbak Tia, lalu ku ketik beberapa baris kata dan ku kirimkan padanya,
“ mmhh... mbak belakangan ini ko, berubah ma aku, ada
masalah apa mbak?” tulisku
“ ngga ada apa-apa, cuman banyak pikiran kuliah dan kerja
aja, Ryan merasa aku beda ya?” balasnya
“ ya aku merasa mbak Tia lain, apa karena masalah yang
kemarin-kemarin ya mbak?” tulisku lagi
“ mmhh,, Ryan ngga salah sepenuhnya, cuman aku ngga siap
aja untuk semua itu, dan ngga semestinya Ryan bersikap demikian sama aku”
jawabnya
Perasaanku jadi kocar-kacir setelah membaca sms
balasannya.
Hari ini adalah hari Rabu, tepat jam sepuluh aku sudah ada di kampus, dan masuk
ke dalam kelas untuk mendapatkan materi dari dosen, tapi yang membuat aku
gelisah adalah , ngga ada gadis yang aku nantikan kehadirannya di kelas itu.
Dalam hatiku bertanya, ada apa dengan Mbak Tia?
Jam 17.15 aku sampai di rumah, dan langsung mandi, setelah
mandi ku tatap kembali wajah pualam mbak Tia, di layar laptopku, begitu manis
dan memikat di hatiku.
“mbak Tia ko, ngga masuk kuliah tadi, sakitnya? “ aku
kirimkan sms ke nomornya
Beberapa menit kemudian aku terima balasannya
“ tadi ada acara di rumah jadi ngga bisa masuk Yan?”
balasnya
“ oh,, kirain mbak sakit,, syukurlah mbak, sekarang lagi
ngapain?”
“ cuman di rumah aja, ngga ngapa-ngapain, Ryan sendiri
gimana?”
“ aku semakin yakin kalo mbak itu berubah, maaf jika semua
itu karena ucapanku yang kemarin” kukirim kan padanya.
“ Aku ngerti Ryan, tapi tolong mengerti aku” jawabnya
dalam sekejap.
Aku tak lagi membalasnya, aku malah pergi tidur untuk
menghilangkan rasa kecewaku. Tapi malah ada telpon, dari Erik temanku yang
paling mengerti aku.
Aku di ajak keluar, malam itu dan kebetulan aku belum
makan. Di sebuah tempat makan yang cukup sederhana, kami makan bersama sambil
cerita.
“ oya Rik, menurutmu mbak Tia belakangan ini bagaimana”
ujarku
“ kenapa Yan, ko pertanyaannya gitu?”
“ ya aku liat belakangan ini mbak Tia banyak berubah ,
mulai dari sikafnya ke aku, sampai dia sering ngga masuk kuliah, padahal dia
orangnya peramah dan rajin loh” tukasku
Sejenak kami terdiam, dalam keasikan menikmati menu makan
malam saat itu.
“ oya Yan, sebenarnya ada yang aku mau bilang ke kamu”
ujar Erik
“ wah,, masalah apa boy, ngomong aja, ngga apa-apa?”
jawabku
“ sebenarnya kemarin-kemarin aku di sms oleh mbak Tia, dan
katanya bulan depan dia akan menikah dengan seorang muslim, tapi aku ngerti
dengan kamu boy, makanya aku ngga ngomong sama kamu” tutur Erik
Aku menghela nafas panjangku, kerenguk gelas berisi air di
depanku sampai tiga kali rengukan, kembali aku terdiam dan terus menikmati
makan malamku yang kurang sedap lagi karena penjelasan Erik.
Selesai makan aku langsung pulang, semuanya Erik yang
bayar karena barusan dapat kiriman. Aku kunci kamar rapat-rapat, ku buka
kembali laptopku, terlihat wajah yang di balut kerudung berwarna pink dan
senyum mekar dari bibirnya, ku raba permukaan layarku.
Sudah beberapa bulan aku mengatakannya pada mbak Tia, tapi belum ada jawaban
yang membuatku bahagia, hingga aku mencoba berdiri dalam ketegaranku dan
menjaga hatiku untuk selalu untuknya, tapi malam ini aku tau apa yang menjadi
pilihannya, apa yang menjadi jawaban dari pertanyaan ku Enam bulan yang lalu
padanya. Kenapa dia ngga mengatakan itu padaku sebelum aku semakin
mencintainya? Kau sungguh tega Tia Pranasinta. Ku kagumi sifat lemah lembutmu,
tutur sapamu yang baik, dan kesederhanaanmu. Tapi engkau tak pernah bisa
melihat betapa dalam aku mencintaimu. Itu yang aku katakan pada gambar di depan
layarku.
Sebelum tidur, aku sempatkan untuk menghapus semua yang ada hubungannya dengan
mbak Tia, ku yakinkan hatiku dalam tangisan bahwa Tia memang bukan untuk ku,
dan ku ingin jauh dari nya, bukan berarti benci, tapi aku ingin melupakannya.
*****
Sudah beberapa hari aku ngga masuk kuliah,
tugas-tugasku tak lagi menjadi prioritas utamaku, aku kini jadi seorang penunggu
kamar di kontrakan itu, ku ingin pergi tapi harus pergi kemana membawa ini
semua, begitu berat untuk melangkahkan kaki. Ataukah aku harus membiarkan ini
semakin merusakku hari demi hari? Kenapa aku harus mengenalnya dan kemudian
mencintainya? apa rencana mu ya Robbi dari balik ini semua?
Pagi itu aku terjaga dari tidurku, dan kurasa aku sakit, kepalaku begitu sakit
seperti di pukul dengan benda berat, hingga aku tak bisa untuk bangun dari
pembaringan itu. Ku coba untuk berdiri dan melangkah ke arah dapur untuk
mencari pengganjal perut, tiba-tiba kulihat tetesan pada telapak tanganku,
darah keluar lagi dari hidungku. Aku bergegas melangkah ke kamar mandi untuk
membersihakan darah itu, namun tak hentinya keluar, pemandanganku mulai kabur
dan,,,
“Aakhh..!!!” aku terjatuh di kamar mandi dan tak sadarkan
diri.
Aku memang punya kebiasaan mimisan dari sejak SMP, dan
hingga sekarang masih aja sering mimisan jika banyak pikiran.
Aku terbangun dam melihat pemandangan yang lain, ini bukan pemandangan di
kamarku, kulihat sekelilingku, terlihat kain-kain putih, dan aku juga ternyata
di selimuti dengan kain itu, ternyata aku di rumah Sakit, siapa yang membawa
aku kesini? Dengan apa aku melunasi biaya perawatanku?, aku hanyalah seorang
anak nelayan yang berpenghasilan tak lebih dari sekedar biaya makan untuk
keluarga. Ya Allah,,, apakah ini ujian untuk hamba yang hina ini?
Dari arah pintu, seorang suster datang membawa nampan
berisikan beberapa butir obat, dan segelas air putih,
“oya sus, sejak kapan aku ada disini, ?” tanyaku pada
suster setengah gendut itu
“ tadi saudara di antarkan teman anda sekitar jam sembilan
tadi.” Jawab susternya
“Sekarang jam berapa?” tanyaku lagi
“ sudah jam empat sore”
Ya Allah, dimana teman-temanku, apakah mereka akan
membiarkan aku sendiri di sini? Air mataku membasahi bantal empuk itu, aku
kembali teringat pada Mbak Tia. Di saat dia akan melangsungkan hari yang paling
bersejarah dalam hidupnya, saat itu pula aku mendekam di tempat ini, dalam
hatiku berdo’a semoga dia bahagia dalam hidupnya.
Sekitar jam 17.00 teman serumah datang membawa bungkusan
berwarna hitam, Isaq dan Husain. “Gimana keadaan kamu Yan?” tanya Isaq
“ aku rasa aku sudah sembuh, kenapa kalian membawa aku
ketempat ini, apa kalian kira aku anak presiden apa, dari mana kita melunasi
semuanya?” ujarku setengah marah
“ yang kamu harus pikirkan adalah kesehatanmu dulu yang
pertama Yan, kuliahmu bisa berantakan kalo kamu sakit-sakitan?” jawab Husain
Sejenak aku terdiam, ada juga benarnya dari apa yang di
katakana Husain barusan. Kesehatan lebih penting ddari segalanya.
Sampai jam delapan malam, mereka berdua menemaniku, lalu
mereka kembali karena banyak tugas yang akan mereka kerjakan. Aku terbaring
sendirian, terlintas pikiranku tentang orang tua ku di sana, mereka akan risau
memikirkanku.
Jam 10.00 aku di periksa dokter, yang agak tinggi. Setelah
di periksa aku kembali istirahat, Isaq yang di sampingku mengikuti langkah
dokter tadi untuk menanyakan kapan aku bisa pulang,
“ Dok, teman saya kapan bisa pulang?” tanya Isaq
“ besok siang sudah bisa pulang, tapi ada yang harus kita
bicarakan di ruang saya” kata dokter
Di ruang dokter Samuel, Isaq kemudian duduk
berhadapan dengan dokter Samuel
“ sebenarnya apa yang terjadi dok?” tanya Isaq
“ teman kamu mengalami penyakit yang sudah lama terjadi
pada dirinya, tapi kalian tidak menyadari bahwa itu adalah gejala penyakit
ganas” terang dokter Samuel
“ maksudnya dok” isaq
“ temanmu itu butuh perawatan yang lebih dari sekarang”
dokter Samuel
Jam 10.30 siang aku meninggalkan rumah yang penuh dengan
pasien itu, sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan tubuh di atas kasur
yang kurang empuk lagi. Tiba-tiba,
”tutuuut,, tutuuut,,”
Satu sms aku terima di ponsel nokia 5310 expres musik ku
itu, dari mbak Tia.
“ maaf , apa Ryan masih sakit? Sorry ya ngga sempat
menjenguk”
“ ngga apa-apa mbak, aku sudah di rumah ko, “ balasku
“mmhh,, minggu tanggal 20 november , datang ya kerumah “
tulisnya
“ insya Allah mbak” jawabku
Aku mengerti bahwa itu adalah undangan di hari
pernikahannya, tapi haruskah aku hadiri hari bahagianya itu, sementara hatiku
akan menangis menyaksikan semua itu? Aku masih belum bisa menerima kenyataan
ini. ya Allah, teguhkan hatiku hanya untukmu.
Malam sebelum hari pernikahan Mbak Tia, Erik datang
membawakan selembar undangan yang tak lain adalah dari Mbak Tia, dan kuputuskan
untuk hadir di acaranya itu. Meski aku tau itu sakit bagiku.tapi aku harus
mencoba untuk melukai hati ini sesakit mungkin agar bisa melupakannya.
Pendek cerita, hari yang tak pernah aku ingin terjadi
akhirnya tiba juga. hari itu aku dan Erik dalam perjalanan ketempat Mbak Tia,
dengan sebuah sepeda motor yang sudah tua, berwarna biru. Dengan cekatan Erik
melewati beberapa pengguna jalan lainnya, sambil tertawa keras,
“ ha ha,, liat polisi di pojok itu boy, mereka jengkel
melihat ulah kita” seru Erik
“ Hati-hati Rik, iingat pepatah, biar lambat asal
selamat.” Tukasku mengingatkan erik
Tiba-tiba dari sebelah kiri datang truck yang penuh dengan
pasir, Erik panik, dan truk itu mengenai kami, sepeda motor terlembar jauh ke
depan, Erik sempat melompat, sementara aku terjatuh, darah mengguyur dari
kepala membasahi wajahku, hingga orang tak bisa mengenaliku. Tiba-tiba saja aku
tak ingat apa-apa lagi. Semua jadi gelap. Dan tak lam kemudian sebuah titik
cahaya yang makin meluas memancar dan menyilaukan mataku, sebuah padang yang
cukup luas, dan hijau. “Indah sekali tempat ini” pikirku. Aku coba berterika
sekuatku, “oooiiii”. Sambil aku menangis, dipikranku kembali di isi oleh Tia.
Yang sebentar lagi akan melangsungkan acara paling bahagianya. Sedang aku gak
tau apakah besok aku masih bisa berpijak di bumi.
Dari kejauhan tampak dua orang dengan pakaian putih dating
menemuiku, namun anehnya mereka hanya mengucap salam kepadaku, selebihnya gak
ngomong aapa-apa lagi. “siapa mereka ini?” tanyaku dalam hati. Lalu tiba-tiba
aku serasa melayang dan terbawa oleh angin sepoi-sepoi. Sungguh nikmat angin
ini. Aku coba pejamkan mataku menikmati nikmatnya hembusan angin yang gak aku
tau dari mana datangnya. Dua orang dengan pakaian putih tak lagi aku hiraaukan
kehadirannya. Saat ku buka mataku, tampaklah diriku yang lain. Seorang yang
mirip sekali denganku, tapi dia terlihat kaku, matanya terpejam. Lalu kusapa. “kau
siapa dan mengapa kau bisa mirip dengan aku?” tanyaku. Namun tak ada
jawabannya. Orang tua yang masing-masing berjubah putih tak lagi napak olehku.
Hanya kain putih yang kini aku kenakan. Apakah kain ini dari orang tua tadi?
Lalu siapa orang yang mirip dengan aku itu? Tanyaku dalam hati. Atau kah aku
telah meninggal?
INNA LILLAHI WA
INNA ILAIHI RAJIUN.
Angin segar tadi telah mengantarkanku ke alam penantianku
untuk akhir zaman. Aku bukan lagi di dunia tempat Mbak Tia tengah berbahagia,
bukan lagi di dataran tempat aku merasakan detakan cinta setiap melihat mbak
Tia. Selamat tinggal Mbak Tia. Semoga engkau bahagia selalu, dan di ridhoi oleh
ALLAH SWT. Amin,,,,!!!
END


11.46
Bukan Spiderman
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar