Aku
bingung dengan nya pagi ini. Ia seakan acuh dan tak mempedulikan aku. Apa yang
terjadi dengan istriku, pikirku dalam hati. Entah kesalahan apa yang telah aku
lakukan sehingga ia merubah sikap terhadapku. Tadi pagi saja ia masuk kekamar
mandi dengan sesuatu yang ada di tangan kanannya, meskipun ia berusaha
menyembunyikannya dari penglihatanku, tapi setidaknya aku tau ada sesuatu di
dalam genggamannya. Ya Allah, maafkan hamba jika khilaf menjaga amanahmu ini.
Maafkan jika aku telah berbuat salah kepada istri.
Sepulang
dari mengajar, perutku pun terasa lapar. Kulihat hidangan untuk makan siang
sudah tersedia di dalam sebuah tudung saji. Rupanya ia masih sempat menyediakan
semuanya untukku. Syukurlah. Kalau saja tidak, pasti aku pergi kerumah bunda
untuk ikut makan siang disana. Tapi bukankah itu akan memperlihatkan indikasi
ketidak harmonisan jika sampai aku melakukan hal itu. ah, sudahlah yang
terpenting semuanya masih seperti kemarin, yang beda hanyalah sikap istriku
kepadaku hari ini. Aku berusaha membuang jauh-jauh pikiran-pikiran yang negatif
tentang istriku hari ini. Apapun yang terjadi, aku hanyalah seorang suami yang
mencoba dan berusaha menjadi suami yang terbaik untuknya. Aku mencintai istriku
seperti aku menjaga harga diriku yang tak pernah kuinginkan di permainkan oleh
siapapun juga. Dan walau bagaimanapun juga ia(istriku) tetap dia yang kukenal
dulu.
*****
Aku
dan dia adalah sepasang kekasih pada saat masih sama-sama menyelesaikan kuliah
S1 kami di kampus IKIP Budi Utomo Malang. Walau saat itu kami tidak dalam satu
jurusan, tapi itulah cara Tuhan mempertemukan kami. Aku mengenalnya tidak lama
setelah kami baru saja sama-sama memasuki masa perkuliahan semester empat saat
itu. saat itu dikampus mengadakan turnamen intra kampus. Yang kemudian dinamai
“Rektor Cup”. Kebetulan saat itu ia masuk dan ikut lomba debat berbahasa
inggris. Ya, secara dia adalah mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris.
Sedang aku masuk di jurusan Pendidikan kesehatan jasmani dan rekreasi. Aku
sebenarnya tidak terlalu jago dalam hal permainan olahraga semisal bola Voli
atau lainnya. Tapi untuk meramaikan acara kampus tahun itu, aku masuk bergabung
tim Futsal di kelasku.
Dan
perhelatan turnamen pun bergulir. Meskipun cuaca saat itu berawan. Acara
pembukaannya berlangsung ramai. Di hari kedua, kelasku pun turun lapangan
menghadapi tim lainnya. Tim kami bermain di pertandingan kedua. Sekitar jam
17.00 an gitu. Ya ada waktu buat mempersiapkan mental pikirku. Sebagai bentuk
pemanasan mental, aku berjalan dengan kostum futsal dibadanku di hadapan
anak-anak yang aku tak tau dari mana jurusan nya, setelah baju yang aku kenakan
saat kuliah tadi aku lepas dan ku masukkan kedalam tas kuliahku. Tapi tetap
saja ada rasa grogi sedikit J.
Aku berjalan menuju sebuah kedai minuman, kubeli satu botol air mineral untuk
lebih menenangkan diriku. Sebelum aku kembali kumpul dengan teman setim,
kusempatkan untuk kekamar kecil terlebih dahulu. Saat kubuka pintu kamar itu,
tiba-tiba seorang perempuan menubrukku dari dalam. Botol minumanku tertumpah
membasahi pakaian dan kertas ditangannya.
“Sorry,, aku benar-benar tidak sengaja, aku tidak tau
kalau ada orang di dalam” ujarku meminta maaf.
“sekali
lagi ma,,!” belum sempat kuselesaikan kalimatku, ia pun langsung angkat bicara.
“ Aduh mas, kok jadi begini sih. Masa iya aku harus
pulang kembali kerumah untuk ganti pakaian. Mana sebentar lagi debatnya akan di
mulai lagi. Makanya kalau mau masuk ketuk dulu pintunya. Jangan asal masuk aja.
Mata dimana sih mata itu?” umpatnya kepadaku
“ iya
iya, aku tau. Sorry.” Jawabku
“
gimana nih, masa aku harus ikut debat dengan pakaian basah kayak gini?”.
Tambahnya
“ emh, , gini aja. Aku punya baju kemeja di tas ku,
kalo mau aku akan pinjami sebagai ganti atas kesalahanku. Gimana mau coba
nggak?” t
“ya udah deh, aku coba dulu. Tapi kamu nggak apa-apakan
kalo aku pake dulu, besok-besok deh aku kembaliin”.
“iyalah, gak apa-apa kok. Pake aja. Lagian sebentar
lagi kelasku bertanding main futsal melawan kelas lain”. Imbuhku
“ oh, iya emh, nama kamu siapa?, aku Asnan”. Tambahku
memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan kanan.
“
Indah, Indah AlBaqtiyar”. Jawabnya dan menjabat tanganku.
“Namanya
keren, emh seperti kearab-araban”. Pujiku sambil tersenyum kecil
“Nan,
kamu dipanggil Irwan”. Suara panggilan untukku.
“Ya
udah, aku pergi dulu yah. Ini Bajunya”. Aku pamit padanya
Tak
lama kemudian kami pun bermain sore itu. semuanya menjadi terasa enjoy saat
dilapangan tidak seperti yang kupikir sebelum masuk kesini, pikirku dalam hati.
Kami tampak kewalahan menghadapi lawan sore itu. dan hasilnya kami kalah dengan
skor telak. 4-1. Ya sudahlah, selalu ada yang kalah di dalam sebuah
pertandingan.
Sesampainya
di rumah. Aku hampir lupa kalau baju ku tadi aku pinjamkan kepada seorang
wanita yang barusan juga aku kenal namanya. Indah J. Namun ada yang ketinggalan di saku bajuku tadi. Selembar
uang dua puluh ribuan dan Kartu tanda Mahasiswa(KTM)ku. Aduh, bahaya ini kalau
misalnya sampai hilang atau tercecer dan Indah tak melihatnya. Ya semoga saja
tidak terjadi. Tapi hatiku tetap mengkhawatirkan itu. saking gelisahnya aku
membuka Laptop dan menyalakan modem, siapa tau saja aku bisa menemukan akun
Facebooknya ataupun Twitternya. Biasalah zaman sekarang hampir semua orang
punya kedua akun tersebut. Kuketik word “Baqtiyar” dan hasilnya no result. Ya sudahlah, mungkin aku saja yang
terlalu khawatir.
*****
Besoknya
dikampus, masih ramai oleh anak-anak. Hari itu aku gak ada kelas. Aku ke kampus
hanya untuk menyerahkan tugas kepada Agung ketua kelas kami. Sambil ikut
melihat-lihat kegiatan di kampus. Ditambah ngopi di kantin kebanggaan anak-anak
walau bangunannya cukup seadanya. Kupesan se gelas Kopi bubuk instan untuk
menemani duduk disitu. Baru saja beberapa kuteguk gelas yang masih berasap itu,
aku dikagetkan oleh seseorang. Rina ternyata. Pundakku jadi sasaran tinjunya.
“lagi
ngapain loe Mblo(jomblo)”. Sapanya
“ nungguin Agung, buat nyerahin tugas minggu kemarin.
Kamu sendiri ngapain dikampus, kan lagi gak ada kelas?”. Tanyaku
“ biasalah mejeng, siapa tau dapat kenalan
baru”.pungkasnya
Tiba-tiba saja lewat dua orang cewek dengan rambut agak
panjang, hitam dan cukup lebat. Favorit ku rambut seperti ini J. Sekilas ia menoleh kearah tempat aku duduk. Dan
ternyata ia adalah Indah dan temannya. Spontan aku berdiri dan menghampiri
mereka.
“hai,
apa kabar? Emh,, ada kuliah yah?”. Basa-basiku padanya
“
baik, kamu gimana kabarnya?. Oh iya, bajumu yang kemarin, aku kira kamu gak kan
ada di kampus, lagian dirumah mungkin masih belum kering jadi gak aku bawa. Gak
apa kan?”. Pungkasnya
Matanya langsung bertatapan dengan temannya itu, aku
pun ikut-ikutan salah tingkah. Mungkin dikiranya kami berdua pacaran oleh
temannya itu. mana mungkin orang yang baru kenal sudah berani pinjam-pinjaman
baju. Suasan demikian mengundang Si Rina si banyak cincong ikutan dalam
percakapan kami.
“kalian
pacaran yah?”. Tanyanya setengah ngeledek.
Ku lihat raut wajah Indah yang terlihat memerah padam.
Mungkin dia merasa malu. Tapi sebenarnya akupun jadi malu sama dia. ada-ada
saja si Rina, merusak suasana saja.
“ya udah aku kekelas dulu yah, takut terlambat. Emh,
minta nomer hapemu donk, biar bisa phone
kamu untuk ngembaliin baju mu yang kemarin itu.” ucap Indah
Akupun
mendiktekan nomer handphoneku satu demi satu untuk ia simpan di ponselnya. Lalu
ia pun berlalu melangkah masuk kekelasnya. Si Rina semakin menjadi-jadi mengolokku.
Sampai pada saat Agung datang dan akupun menyerahkan tugas kuliah itu.
Malamnya, aku dan Indah mulai kontak-kontakan via message di handphone.
“Mat malam teman, aku Indah.
Makasih yah, pinjaman bajunya kemarin. Emh, kapan mau ngambil bajunya. Nih udah
selesai aku rapikan.” isi
pesan dari Indah.
Tanganku pun mulai bergerak untuk ngetik balas smsnya.
Ku tulis saja;
“sama-sama
ndah. Gimana debatnya kemarin, sukses gak?”.
” hmm, kalah sama kakak tingkat L.” Balasnya
“gak
apa-apa, anggap aja pelajaran untuk lebih belajar lagi kedepan”.
“iya, makasih sugestinya. Oh iya
gimana hasil kemarin, win or lose?”.
Balasnya lagi
“kami
juga kalah. J.”balasku
Sampai akhirnya kami berdua malah cerita panjang
banget, sampai ngomongin keluargalah. Dan tak lupa pula kutanyakan KTM ku yang
ketinggalan di Saku depan kemejaku. Dan aku pun mulai merasa betah untuk
berlama-lama chat via sms dengannya. Bahkan jika ia mau sampai subuh nanti. Ah,
pikiranku mulai salah arah nih. Pekikku dalam hati. Sebelum ia pamit untuk
beristirahat, ia sempat membuat janji denganku untuk menyerahkan baju ku itu.
dan aku pun menyetujuinya.
*****
Malam
itu adalah malam minggu, indah mengingatkanku janji yang kemarin sejak sore
tadi. Katanya sih mumpung ia ada waktu. Ya udah aku anggap saja kesempatan
terakhir, dan tak boleh disia-siakan jika dikasih kesempatan oleh seseorang.
Karena jika ia, bisa-bisa kita akan menyesal seumur hidup. J. Indah mempercayakanku untuk menentukan lokasi atau
tempat untuk kami berdua. Dan kupilih di Andromeda saja, tidak terlalu jauh
dari tempat ia tinggal. Sebuah cafébox yang cukuplah untuk anak-anak sekarang.
Kami berdua duduk paling dekat tembok sebelah depan yang terbuat dari hampir
semua bahan kaca. Jadi nampak diluar orang yang lewat. Kebetulan arah kursinya
menghadap kearah luar. Ya cukup romantislh untuk sepasang kekasih. Tapi aku dan
Indah masih bukan sepasang kekasih saat itu. ku pesan “ice milkshake chocolate
float” dua pors dan “Fried potatoes” satu pors. Satu untukku dan satu lagi
untuknya. Sambil menunggu pesanan datang kami pun mulai mengoceh berdua. Sampai
saat pesanan kami datang, ia masih saja banyak mengoceh. Dari ocehannya aku
menangkap bahwa ternyata dia anaknya asik diajak ngobrol, nyambung(alasan
menyukai kebanyakan anak-anak sekarang J).
Akupun
semakin banyak bertanya dan mengintrogasinya dengan beberapa pertanyan tentang
dunia kebahasaan yang sesuai dengan studynya.
Dari situ pula ku ketahui bahwa ia juga pintar dan cerdas. Benar-benar
gadis yang hebat. Tiba-tiba saja aku ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang
dia. ia tak terlalu cantik ataupun manis, tapi sudah cukup membuatku terdiam
saat iya menatapku agak lama. Apa iya aku grogi yah.
Aku
pun lalu membawanya kedalam obrolan seputar pacaran. Dari beberapa idenya
tentang pacaran, dapat kuketahui bahwa iya belum punya pacar sampai saat itu.
beberapa saat setelah kutanyai mengenai siapa pacarnya, kami berdua terdiam
sejenak. Ia sendiri mengakui bahwa iya tak punya pacar sampai hari itu.
jawabannya seakan menyuruhku untuk lebih agresif lagi dan mencoba menawarkan
hati. Aku teringat sebuah penggalan kalimat yang ada di dalam sebuah film. Yang
intinya adalah “jika sebuah kesempatan datang, jangan sia-siakan moment itu,
karena setelahnya tak kan ada lagi kesempatan yang sama.”
Aku
sedikit tak berani. Tapi aku harus mencobanya. Lelaki sejati akan selalu berani
mengambil resiko untuk sebuah tujuan dan niatan yang baik. Lalu aku mulai
menulis kata didalam hatiku dan kusampaikan melalui bibirku.
“ emh,
aku juga sama dengan kamu. Masih belum memiliki pacar sampai saat ini. Aku gak
tau kenapa, padahal aku sudah mencobanya beberapa kali tapi tetap saja belum
berhasil. Jikalau aku mencobanya lagi kepadamu, apakah hasilnya akan tetap sama
dengan usahaku yang kemarin-kemarin?” paparku dengan berusaha menyembunyikan
raut wajahku yang tak aku tau seperti apa bentuknya kala itu.
Tak
ada jawaban darinya. Aku mulai risau sendiri. Aku hampir saja salah tingkah
seandainya, aku tak pintar menguasai hatiku.
“ ya mungkin saja kejadian kemarin adalah cara yang
maha kuasa mempertemukanku dengan cintaku, atau mungkin saja cara Tuhan untuk
membuat tidak berhenti berusaha mendapatkan cinta dari seorang wanita yang
mungkin saja adalah yang tepat untuk menerima cintaku”. Tambahku lagi
“yeh,, ada yang mulai puitis nih malam. Tau gak aku
paling takut dekat dengan orang puitis?”.Ujarnya
“ kok
takut, emang dia ada setannya kah?”. Tanyaku bercanda
“ ya takut aja, hanyut terbawa untaian kata-katanya,
aku kan gak bisa berenang”. Jawabnya menimpali candaku
“ ono-ono wae sampean Indah, berteman sama orang puitis
ada baik juga kale. Bisa menghibur kita saat sedih, atau setidaknya bisa
membantu membuatkan puisi saat sedang jatuh cinta”. Kataku disertai tawa.
Suasananya
semakin membuatku berani dan nekat lagi mengatakan cinta. Dan ia tetap saja
menimpalinya dengan canda. Tak terasa sudah mau jam sepuluh malam. Ia pun minta
untuk aku antar pulang. Sebuah motor Vespa berwarna abu-abu membawa kami
meninggalkan Andromeda. Sepanjang perjalanan ia masih saja bercanda. Aku hanya
menimpalinya sekali-kali.
“iya yah, mungkin karena aku hanya punya Vespa buntut
ini, hingga gak ada yang mau sama aku yah Ndah. Baru kamu loh yang berhasil aku
bonceng dengan barang abu-abu ini. Itupun aku gak tau terpaksa atau tidak”. Aku
menimpali candanya
“
mungkin belum saat kali As”. Jawabnya.
Suasana kembali hening, tak ada lagi ocehannya. Aku
mematikan mesin kendaraan berhargaku didepan sebuah rumah berwarna putih
kekuningan. Dan ia pun beranjak dari jok Vespaku.
“makasih yah untuk malam ini, udah menemaniku dan mau
mendengarkan kicauan tadi”.
“ sama-sama Indah, aku senang malah. Bisa bermalam
minggu sama cewek secerdas kamu”. Jawabku
“ oh iyah nih baju nya”. Iya menyerahkan sebuah
bungkusan yang berisikan bajuku.
Dan ia pun masuk kedalam rumahnya. Selepas itu, Si
Abu-abu kembali merongrong menambah kebisingan kota Malang malam itu. aku
merasa ada sesuatu yang tak selesai malam itu. yah, aku tak mendapati jawaban
cintaku dari Indah. Sudahlah memang sudah takdir seperti ini. Apa susahnya sih
menjadi bujangan.
Jam 23:14, hapeku memekik. Entah sms dari siapa malam
seperti ini. Mungkin dari Wardi, yang mau minjam uang lagi buat bayar kost-kostan
nya atau Dika yang biasa ngajak taruhan bola. Aku sendiri hampir tertidur saat
itu. kulihat dari Indah.
“emh,, tawaran yang tadi, masih
belum hanguskan?”. itu
isi pesannya.
“
edisi spesial buat kamu, garansinya seumur hidup”. Balasku dengan cepat
“
syukurlah, apa kamu yakin dengan aku? Aku orangnya gak asik loh.”
“trus
kalo gak asik, kenapa aku mesti menyukai saat kamub ngomong panjang lebar dan
tinggi tadi. I love U Indah”.
“
ya udah mulai besok aku siap jadi pacar kamu”. Jawabnya singkat
“trus
malam ini, belum tah?”
“malam
ini adalah waktuku mempersiapkan diri dan hatiku untukmu sayank”.
“mulai
malam ini kenapa sih sayank J?”
Tak ada lagi balasan darinya. Cukup membuatku penasaran
dan menunggu sampai beberapa menit balasan darinya.
Besoknya aku dan dia memulai sebuah cerita indah yang
berhasil kami abadikan sampai saat ini. Ya saat ini aku dan ini tengah
menjalani masa yang hampir setahun masa pernikahan kami yang berlangsung cukup
sederhana. Dan hari ini aku dan Indah duduk berdua didepan sebuah meja
berbentuk persegi panjang untuk menyantap hidangan makan siang. Duduk ala
pacaran waktu masih sama-sama kuliah dulu. Tapi hari ini cukup berbeda. Sejak
tadi pagi iay belim mengeluarkan sepatah kata pun kepadaku. Entah salahku apa,
aku sendiri tidak tau.
Jika dulu kami biasa makan sambil bercerita, bercanda
dan tertawa, kali ini kami makan dengan tanpa sepatah kata pun. Mungkin ada
baiknya aku tanyakan apa yang terjadi padanya. Lalu aku pun mencoba mengubah
suasana dengan memanggilnya sama seperti aku memanggilnya saat pacaran dulu.
“cantik!”. Sapaku
Jika dulu iya sering bilang “gak dengar”, kali ini tak
ada respon sedikitpun. senyum pun tidak sama sekali.dia benar-benar marah
mungkin kepadaku.
“sayang, kamu kenapa sih?. Hari ini kok sangat berbeda
dari yang kemarin. Aku salah ya sama kamu. Katakanlah yank, biar aku bisa
jelasin”. Pintahku
Ia tetap memilih berdiam dan membungkam bibirnya.
Sebenarnya aku paling gak suka didiamin seperti itu. tapi yang kuhadapi ada
seorang wanita juga istri aku. Aku tak mungkin berlaku kasar hanya karena hal
seperti ini, lagian aku belum tau kejelasan penyebabnya. Sampai ia
menyelesaikan makan siangnya, ia tetap memilih diam. Dan bahkan saat iya
beranjak meninggalkan tempat duduknya. Hanya selembar kertas putih yang tertinggal
dari tempat ia makan tadi. Itupun mungkin karena ia lupa mengambilnya. Kontan
saja aku raih kertas itu.
“Aku positif hamil sayank, tadi pagi aku melakukan tes
urine di kamar mandi dan hasilnya sangat membuatku bahagia. Maaf jika dari tadi
pagi sampai siang ini aku diam dan cuek sama kamu. Tapi itu hanyalah caraku
untuk memberi sayank kejutan yang membahagiakan ini. I Love U suamiku”
itu isi tulisan dikertas itu. ubun-ubunku seperti baru
saja disiram air embun di kala pagi hari. Sungguh bahagia rasanya. Terima kasih
ya ALLAH. Sejenak aku melakukan sujud syukur kepada ALLAH dengan disaksikan
oleh Indah yang tengah berdiri di depan pintu kamar tidur. Selepas itu aku
langsung memeluknya seperti sepasang kekasih yang bari dipertemukan.
“makasih sayank, kamu sungguh membuatku bahagia. Semoga
tuhan memanjangkan waktu kebersamaan kita”. Ucapku terbata.
Tiba-tiba ia menarik lenganku dan berbisik. “yank, aku
punya hadiah buat kamu”.
Pintu kamar tidur iya tutup, lalu menarikku hingga kami
berdua terjadi diatas sebuah kasur yang sudah tidak empuk lagi. Dan kami pun
melakukan ibadah kepada Allah. Ibadah bagi mereka yang telah di Halalkan oleh
ikatan yang disenangi oleh Allah.
Malang,
29 Desember, 2013