Tanggal 1 April 2013
Siang ini, aku masih saja mengiris hati
sendiri dengan beberapa lelehan titik air mata. Air mata sesal ku selama ini.
Kupandangi gambaran wajah seorang muslimah dengan jilbab berwarna hijau tua
tengah membalut kepala dan mahkotanya itu. Wajah seorang muslimah yang
menurutku adalah solehah. Dan matanya pun demikian tajam membalas tatapanku
yang terlinangi air mataku sendiri. Dan lelehannya akan semakin deras kala ku
ingat-ingat lagi masa yang dulu terlewatkan bersamanya.
Aku tau aku tidak bersamanya lagi setelah
tiga bulan yang lalu aku mengakhiri ceritaku bersamanya. Namun hal itulah yang
menjadi penyayat hatiku saat ini,penyayat yang paling menyedihkan bagiku
seorang Syarif. detik itulah yang kini semakin menikamkan luka lebih dalam lagi
di jiwaku. Belati sesalku pun menambah perihnya goresan dihatiku yang kini
kelabu, nanar dan membeku karena keanehanku sendiri. Keanehan yang dulu
membunuh cintaku kepada Anisa yang saat ini ku pandangi gambaran wajah
pualamnya di selembar poto yang ada di tanganku kananku saat ini. Keanehan yang
tiba-tiba saja merenggut cintaku dan melenyapkannya dari Anisa. Dan aku tidak
pernah tau sebab keanehan itu terjadi dan bergejolak menggelegar di ruang
hatiku tiga bulan yang lalu. Tepatnya hari jumat, tanggal 1februari 2013.
Tiga bulan yang telah lalu itu adalah
masa yang mungkin belum bisa termaafkan oleh Anisa kepadaku. Tiga bulan lalu
yang sangat kejam dariku. Tiga bulan lalu yang menjadi penyayat dan pemeras air
mata pedih penuh sesal ku sejak ini. Dan seandainya saja Anisa disini saat ini
juga ku ingin bersimpuh bagai seorang hamba memohon kepada junjungannya.
Kuingin tau, apakah ada maafnya untukku. Untukku sang pembual dan pemghianat
dalam kehidupan cintanya. Dan aku menyadari aku telah salah. Oh,, Anisa,,,!!!
Maafkanlah aku. Maafkan aku untuk tiga bulan yang lalu.
Tiga bulan yang lalu, aku tiba-tiba saja
dihampiri oleh hidayah yang sangat aneh untuk pemuda seusiaku. Bagaimana tidak
aneh, tiba-tiba saja aku tak ingin mengenal dan merasakan cinta. Aku tak ingin
dicintai dan mencintai oleh siapapun juga. Itulah kenyataan yang kualami saat
itu. Seakan aku mulai merasa bosan dengan semua tentang cinta. Bahkan hakikat
cintapun aku tak pernah mengerti. Aku tidak pula lelah dan sakit karena cinta.
Yang ada aku merasa baik-baik saja dengan Anisa, mantan kekasihku tiga bulan
yang kemarin. Aku bahagia dengan kebersamaanku denganku. Tapi aku tiba-tiba
saja merasa ingin jauh dari nya, ingin berpisah dengannya begitu saja. Bukan
karena aku membencinya ataupun tidak menyukainya. Tetapi cinta yang ada di
dalam hatiku menghilang begitu saja di dalam sanubariku. Seakan ada yang
menelannya atau menguburnya. Jujur aku sendiri bingung dengan hati dan
perasaanku aku saat itu.
Hingga akhirnya aku tak kuasa
untuk mengataknnya pada Anisa, gadis yang saat itu menjadi kekasih ranking satu
buat aku. Aku tidak tau harus bagaimana untuk mengatakan kepadanya. Tapi ini
sebuah keharusan untuk ku ungkap kepadanya.
Aku memang sangat aneh saat itu,,, sangat
dan sangat aneh. Padahala tak sedikitpun Anisa berbuat salah kepadaku kala itu.
Mana mungkin ia akan merelakan semua itu berakhir semudah demikian itu?. Dia
tak mungkin rela. Aku mengenal betul akan diri dan hati Anisa. Dia seorang
gadis yang tak mudah jatuh hati. Dan aku bersyukur telah menjadi bagian dari hari-harinya
kemarin. Namun aku seolah tak melihat setiap hembusan ketulusan dari cinta
Anisa kepadaku.
Namun harus ku akui bahwa sangat bahagia
selama bersamanya menyulam benang-benang
cinta untuk sebagai selimut hati di setiap hari-hari bersamanya. Menyulap
setiap kesedihan menjadi ceria dan senyum di wajahnya. Aku dapat merasakan
setiap keindahan cinta Anisa kepadaku. Disuatu hari kemarin saat aku sakit, tak
ada ada seorang pun yang memberiku perhatian setulus siraman embun di kala pagi
hari. Hanya dia yang datang membawa seuntai senyuman manis penghibur dan juga
obat penawar disetiap rasa sakitku. Karena aku jauh dari lingkungan keluargaku.
Dialah seorang yang rela dan setia merawatku layaknya seorang perawat terhadap
pasiennya. Dan aku lah yang pasien cintanya yang begitu tulus itu kepadaku.
Anisa sangat sering memperhatikanku
hingga pada hal-hal atau kegiatan pribadiku. Seperti makan, mandi, dan
berpakaian. Ia mengingatkan aku agar tak lupa makan, membenarkanku jika
berpakaian kurang rapi dan selalu menyuruhku untuk tidak malas mandi. Lucu juga
bila diingat-ingat terus. Ya,,, aku memang kadang merasa seperti seorang bayi
karna perhatian dan kehadiran Anisa menemaniku disetiap detik yang tak pernah
ku lupa mensyukurinya karna punya kekasih sebaik dirinya.
Bukan itu saja, aku juga terkadang merasa
menjadi orang terkaya di dunia karna memiliki hati dan cintanya. Ada kalanya
Anisa tak ada di sampingku sampai beberapa minggu. Maklumlah, dia juga punya
aktivitas kuliah yang tak kalah pentingnya dari pada hanya mengurus aku yang
hanyalah sesuatu yang ke-100 baginya. Kuliah dan ibadah adalah nomor satu baginya.
Disaat-saat seperti itulah, aku kerap
kali merasakan rindu kepadanya bila dalam beberapa hari tak bertemu dengannya.
Karna aku juga manusia. Namun ada hal yang sangat berarti bagiku karna
merasakan pukulan rindu karenanya. Hal yang berarti itu adalah disaat dia
tiba-tiba datang dengan senyuman merona di wajahnya yang putih itu. Disaat dia
tiba-tiba datang tanpa sepengetahuan aku, dan dengan kedua tangannya di
tutupnya mataku. Dan meminta untuk ditebak siapakah yang tengah menutup mataku
saat itu. Emhh,,, dasar Anisa, dia bisa saja membuatku kian bertambah cinta
kepadanya. Lalu ku pikir-pikir lagi. Dan ternyata dia juga sangatlah romantis.
Aku pernah sekali membiarkannya merayuku. Dan dari situ lah aku bisa
mendengarkan satu kalimat panjang yang juga sangat aku suka mendengarnya. “Tidak ada yang mampu membuat hati ini tersentuh, kecuali
dirimu sayang, karena kamulah lelaki terbaik dalam hidupku”.
Huhh,,,!!!.
Sungguh manis bukan? Itulah Anisa. Gadis remaja masjid yang saat pertama
kali aku bertemu dengannya tak pernah berani melihat kearahku. Bukan karena dia
tak punya nyali untuk mengintip cintaku lewat jendela hatiku, untuk menatap
mataku. Akan tetapi dia melihat cintaku dengan mata hatinya yang tak pernah ku
tau dimana letaknya yang pasti. Tundukan kepalanya itulah yang berbisik
ketelingaku bahwa saat itu dia menjaga keteguhan Imannya. Jujur, aku sekali
pernah memberinya pertanyaan iseng dan sangat konyol. Isi pertanyaanku seperti
ini. “ menurutmu aku tampan atau tidak Nis”?. Aku sendiri heran dengan
jawabannya. Lewat akun Emailnya dia mengirimiku sepotong surat yang ada dalam
Alkitab Al-Qur’an. Yaitu sebuah surat yang menceritakan tentang ketampanan nabi
Yusuf A.S. yang intinya adalah bahwa rupa manusia biasa dengan ketampanan Nabi
Yusuf A.S hanya lah perbandingan sebutir pasir dengan gunung Himalaya.
Jadi tak pantas dipertanyakan ketampanan itu. Jujur aku merasa malu dengannya.
Tapi itulah Anisa yang aku kenal. Tidak tau kalau dengan Anisa-Anisa yang lain.
Anisa memang sesuatu yang sangat berharga yang pernah ku miliki. Dengan Anisa
aku bisa menembus alam yang penuh dengan pesona Islami tanpa harus membayar
mahal ataupun dengan mengendarai sedan model terbaru menuju jazirah Arab yang
lebih populer dengan pesona Islam.
Namun aku juga sepenuhnya menyadari bahwa Anisa juga tetap sama dengan
manusia lainnya. Walau menurutku dia adalah wanita terbaik dari semua wanita
yang pernah ku kenali. Buktinya aku masih saja dibuatnya merasai bagaimana
rasanya di cincang cemburu. Walau terkadang yang kurasakan adalah cemburu buta.
Ya that’s right. Nothing love without jealous.
Lalu apa sih sebenarnya yang membuatku tiba-tiba ingin untuk tak lagi
mencinta dan dicintai olehnya?. Bukankah sangat aneh jika melihat betapa besar
dan tulusnya cinta Anisa untukku?. Dasar bego’ aku ini. Mungkin itulah kata dan
umpatan yang pas buat aku. Kusadari itulah kebodohanku kala itu. Aku menjadi
manusia teraneh, namun sayangnya tidak masuk dalam kategori rekor dunia.
Aku memang egois saat itu. Aku memang bodoh dan tak punya hati dan perasaan. Aku tega menjadi parasit dihati
Anisa yang sesungguhnya masih perawan akan luka hati. Dan bukankah ini adalah
akan menjadi luka hati yang cukup-cukup perih bagi seorang Anisa?. Jika aku
sampai mengabulkan keegoisanku ini, maka sesungguhnya aku lah penyiksa hati
yang paling menyakitkan bagi Anisa. Bagaimana tidak sakit, jika ku menggali
lubang derita dan penuh siksa untuk Anisa. Lalu ku biarkan ia terjatuh
kedalamnya, membiarkannya terisak dalam piluhnya yang tak hentinya memeras
tetes demi tetes pada air mata yang sesungguhnya bisa menenggelamkannya dalam
linangan dan luapan sang air mata. Sungguh biadab aku ini, egois dan tak
berperasaan.
Saat itu, sebenarnya aku jugamasih belum terlalu yakin untuk bisa hidup
tanpa ada cinta dihatiku. Tapi kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa cinta di
hatiku kini benar-benar telah lenyap di sanubariku. Seakan-akan ada yang
menelannya. Dan sepertinya aku memang harus memilih jalan sendiri. Dan harus
meninggalkan Anisa saat itu juga. Bukannya Anisa bisa lebih sakit lagi jika ku
paksaakan hatiku menjalani hubungan tanpa cintaku kepadanya?. Dengan perasaan
yang sangat berat, aku memutuskan untuk melepaskan simpul cintaku yang masih
begitu erat mengenggam jemari Anisa.
Dan benar saja, Anisa dengan perasaan sangat heran dan tak percaya bahwa
cintaku telah hilang di sanubariku ini.
“bukannya aku membencimu hingga aku melakukan ini padamu. Kamu adalah
kekasih terbaik yang pernah aku miliki. Namun cinta di dalam hatiku tiba-tiba
saja seperti ada yang menariknya dan melenyapkannya dari hati ini. Aku juga
merasa aneh dengan pikiran aku sendiri. Aku yakin ini adalah hidayah dari-Nya
yang paling aneh di dalam hidupku. Ku harap kau mengerti dan merelakan aku
untuk pergi” ungkapku pada Anisa.
“dan satu lagi Nis, aku sangat bahagia menjalali waktu bersamamu” imbuhku.
Seakan tak percaya dengan kata-kata itu. Anisa lalu menubruk tubuhku, aku
didekap olehnya. Kubalas dekapannya.
“kurasakan kau masih yang dulu, tak ada yang berubah dari hangat pelukmu
ditubuhku Syarif.” kata Anisa.
Lalu ku lepaskan dekapan itu, kutatap mata beningnya. Kutangkap raut sedih
di upuk matanya. Lalu perlahan demi perlahan kakiku melangkah meninggalkan pelabuhan
yang sunyi itu. Dan isak tangis yang mulai melengking melemahkan jantungku
mengiringi derap langkah kakiku. Kutinggalkan seorang kekasih sendiri diatas
sepinya pelabuhan senja itu. Dan tinggallah ia sendiri terbawa oleh isak
tangisnya yang masih terdengar oleh nuraniku. Dari jauh mataku masih menangkap
dirinya yang tengah memeluk tubuh piluhnya. “Maafkan aku Anisa”.
“Maafkan aku untuk tiga bulan yang lalu”.
Dan hingga hari ini, aku baru mengerti bahwa Anisa telah tiada. Dia telah
pergi untuk selamanya. Semoga saja dia masih mengingat janjiku padanya. Dulu
aku berjanji akan menunggu manis cintanya di alam keabadian sana. Namun pada
hari ini, dia telah lebih dahulu meninggalkan aku dan semua cerita piluh yang
pernah kutuliskan untuknya. Namun engkau selalu menjadi pelangi pertama
yang pernah mewarnai dan memberi kemilau di ruang hatiku yang kejam ini. Kau
harus tau, bahwa selalu ada namamu disalah satu bagian sisi hatiku yang mulai
melebur ini. Tertulis indah dengan tinta cintaku yang suci untukmu, walau
sebenarnya cinta itu telah lenyap dari hatiku ini.
Selamat jalan anugerah terindahku. Semoga engkau disana
bahagia ditemani oleh bidadari yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menemanimu.
Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Insya Allah kita akan dipertemukan
disuatu tempat yang begitu indah dan megah. Tempat dimana bunga cinta
bermekaran sepanjang musim yang tak pernah berganti dan tak pernah layu.
Tunggu aku kasih,,,!!!
Ketika setitik air hujan menitikkan dirinya pada permukaan
tanah, seketika itu ku dapati pula sekelumit pola wajah yang tengah tersenyum
manis dan tak asing tak jauh dari arah depanku. Saat itulah aku kehilangan
sesuatu yang berharga dalam hidupku.
Selesai,
Malang, 3 Februari 2013, jam 03.22 WIB


09.29
Bukan Spiderman


